9 Tempat Pilihan Wisata Sejarah di Aceh

Mengenang sejarah masa lalu tidak akan ada habisnya. Begitu juga dengan Aceh. Berbagai keunikan dari objek wisata sejarah yang ditampilkannya menarik perhatian.
0
9 Tempat Pilihan Wisata Sejarah di Aceh
0 (0%) 0 votes
Sejarah-Sentral-telepon-Aceh

Berada paling Barat Indonesia, Provinsi Aceh punya cerita uniknya tersendiri. Terlepas dari musibah tsunami yang terjadi tahun 2004 lalu, kota yang memiliki julukan Serambi
Mekah ini punya catatan sejarah yang layak dijadikan sebagai objek wisata.

 

Kota ini menyimpan beragam situs peninggalan sejarah dari berbagai masa. Mulai dari masa kesultanan, kolonial Belanda, hingga menjadi bagian dari Indonesia sebagai satu kedaulatan.
Beragam latar belakang sejarah yang berbeda-beda, membuat Hello-pet kali ini akan berbagi cerita wisata sejarah di sana.

 

Baca juga: Misteri Sumur Tua di Aceh

 

Seperti apa ya? Yuk! Ikuti penelusuran sembilan wisata sejarah Aceh berikut ini:

 

 

Wisata Sejarah Benteng Kuta Lubok Aceh

 

Benteng-kuta-Lubok

via: http://arieyamani.blogspot.co.id benteng-di-pesisir-timur.html

Pada zaman perang dahulu kala, sebuah benteng memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan banyak masyarakat. Begitu juga ketika kamu berwisata di Aceh, tepatnya di Kuta Lubok, sebuah bukit dengan ketinggian mencapai 40 meter di atas permukaan laut, yang menjadi aset Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

 

Sebuah benteng yang berdiri pada Abad ke-12 Masehi yang bernama Kuta Lobok menyimpan banyak cerita. Benteng Kuta Lubok merupakan bagian dari kerajaan Lamuri yang merupakan kerajaan pertama Islam di Nusantara serta menjadi awal lahirnya kerajaan Islam Darussalam di Aceh.

 

Hingga saat ini benteng Kuta Lubok masih menjadi bahan penelitian bagi beberapa arkeolog untuk mengetahui asal muasalnya. Namun, temuan awal mengungkapkan bahwa benteng ini adalah
benteng tertua yang didirikan pada masa Kerajaan Lamuri (diyakini sebagai Lamreh sekarang) yang merupakan kerajaan tertua di Aceh.

 

Benteng Kuta Lubok sendiri kini hadir dalam kondisi yang tidak terawat sama sekali. Ilalang tinggi mengerumuni kawasan benteng yang membuatnya terlihat begitu kotor. Meskipun begitu, jika kamu berkunjung ke tempat ini, masih akan menemukan sisa benteng yang berbentuk huruf L.

 

Pada bagian tengah kamu masih bisa melihat sisa benteng yang masih kokoh. Beranjak ke bagian Barat, terdapat sebuah bangunan berbentuk huruf O. Uniknya, diatas bangunan ini terdapat pula sebuah pohon tinggi menjulang dengan akar-akar yang besar menyebar dan membuat keindahan bangunan ini menjadi hilang.

 

Meskipun tidak terawat, para peneliti masih akan melanjutkan tugasnya mencari tahu tentang sejarah benteng Kuta Lubok. Selain itu, peneliti juga terus mengajak pihak pemerintah untuk
“mengamankan” tempat ini sebagai salah situs sejarah dan juga objek wisata.

 

Jika sedang berada di Aceh, langsung saja menuju kawasan perbukitan di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar dan kamu bisa mengikuti sisa-sisa peninggalan benteng Kuta
Lubok.

 

 

Wisata Sejarah Pemakaman Kerkoff Peucut Aceh

 

kerkoff-peucut

via: http://news.detik.com kuburan-serdadu-belanda-bukti-dahsyatnya-perang-aceh

Jika kamu berkunjung ke Museum Tsunami jangan sampai melewatkan sebuah lapangan hijau yang dipenuhi batu-batu nisan.

 

Nisan-nisan dengan beragam ukuran berdiri yang berdiri rapi ini bukanlah pemakaman untuk korban masal bencana alam tsunami, namun makam para pejuang Belanda dan Indonesia yang gugur selama masa penjajahan.

 

Nama pemakaman ini adalah Kerkoff Peucut yang berarti halaman gereja atau kuburan. Sementara itu Peutjut merupakan nama panggilan untuk putra mahkota Sultan Iskandar Muda yang meninggal setelah dihukum rajam oleh ayahnya karena melanggar hukum kerajaan.

 

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa makam Kerkoff ini sudah ada sejak pendudukan Belanda yang mulai menyerang Aceh dari tahun 1873-1904 setelah penduduk Aceh menolak bergabung dengan Hindia Belanda (kini Indonesia).

 

Setiap jenazah serdadu Belanda yang dikuburkan di sana berasal dari seluruh daerah di Aceh yang terlibat perang. Para serdadu yang tewas kemudian dievakuasi ke Banda Aceh, dan dimakamkan di atas lahan kosong milik warga Yahudi yang sempat menetap di
Tanah Rencong.

 

Kini, terdapat lebih dari 2000 pejuang yang dimakamkan dan menjadi objek wisata sejarah yang wajib kamu kunjungi selama di Aceh.

 

Komplek pemakaman ini bisa kamu temukan di Jl. Teuku Umar, Banda Aceh, atau tepat di belakang Museum Tsunami Aceh.

 

Baca juga: Duh Gereja ini dibakar di Aceh!

 

 

Objek Sejarah Taman Sari Gunongan Banda  Aceh

 

gunongan-park

via: http://www.tripadvisor.com d4567406-i116195491-Gunongan_Park-Banda_Aceh_Aceh_Sumatra.html

Wisata sejarah berikutnya yang laik untuk dikunjungi adalah Taman Sari Gunongan. Tempat ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Aceh yang berupa sebuah taman lengkap dengan bangunan istananya. Taman ini berdasarkan sejarahnya merupakan bukti cinta Sultan Aceh pada permaisurinya yang sangat cantik.

 

Gunongan menjadi simbol cinta dan keagungan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636. Di balik berkuasanya Sultan Iskandar Muda, terdapat romansa tentang cintanya pada seorang perempuan Putri Khamalia yang berasal dari Pahang Malaysia.

 

Perkenalan mereka pun dimulai ketika Sultan Iskandar bertemu dengan Putri Khamalia saat sang Raja berhasil menaklukan Pahang Malaysia. Karena rasa cinta yang begitu besar, Sultan Iskandar Muda menikahi Putri Khamalia dan memboyongnya ke Aceh Darussalam.

 

Konon, ketika berada di Aceh Darussalam, Putri Khamalia merasa rindu pada kampung halamannya sehingga sang Permaisuri meminta dibuatkan sebuah bangunan megah nan indah yang menyerupai bukit di Pahang.

 

Sebuah pintu masuk bernama Pinto Tangkop, Bentuknya seperti jangkar kapal yang menandakan bahwa Sultan Aceh memiliki prajurit laut yang kuat. Sementara itu, tepat dibagian puncak Gunongan terdapat menara berbentuk kelopak bunga seperti permata melambangkan kejayaan.
Kini, komplek Taman Sari Gunongan menjadi salah satu objek wisata sejarah ramai untuk dikunjungi. Kamu bisa langsung menuju Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh dan
jangan sampai telat untuk melewatkan momen sejarah, karena taman ini hanya buka dari pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore setiap harinya.

 

 

Baca juga: Aktor Hollywood ini Tertarik dengan Taman Nasional di Aceh

 

 

Sejarah Wisata Gereja Roh Kudus Aceh

 

Objek wisata sejarah lain yang bisa kamu temukan di pusat kota Aceh adalah sebuah gereja tua yang berdiri kokoh hingga saat ini. Lokasinya yang berseberangan dengan Masjid Baiturrahman menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Sebuah gereja Katolik bernama Hati Kudus selain sebagai tempat Ibadah bagi umat Nasrani, juga merupakan wisata sejarah yang wajib dikunjungi.

 

Gereja dengan arsitektur neo klasik ini memiliki luas mencapai 12 x 14 meter dan ketinggian 12 meter ini sudah hadir saat Aceh masih bernama Kutaraja dan Indonesia masih bernama Hindia
Belanda.

 

Pada tahun 1800, gereja ini hanyalah sebuah bangunan darurat yang dipakai oleh Pastor Henricus Christiaan Verbraak SJ untuk beribadah pendatang asing yang berlabuh dan berdagang di Aceh. Namun, karena semakin banyak pendatang yang memiliki keyakinan Nasrani serta tinggal di Aceh, bangunan darurat ini kemudian berubah menjadi gereja.

 

Jika sedang berada di Ibu Kota Aceh, jangan lupa untuk singgah ke Jl. Jend. A. Yani 2, Banda Aceh untuk melihat langsung sisa peninggalan sejarah Aceh melalui sebuah gereja.

 

 

Sentral Telepon Militer Belanda di Banda Aceh

 

Sejarah-Sentral-telepon-Aceh

via: http://www.lintasnasional.com kolonial-di-banda-aceh/

Bangunan sisa perjuangan di Aceh lainnya bernama Sentral Telepon. Pada tahun 1903, sentral telepon merupakan satu- satunya layanan komunikasi yang dimiliki Belanda saat menjajah
Aceh dan digunakan untuk berperang melawan pejuang-pejuang yang ada di kota Serambi Mekah.

 

Namun, seiring berjalannya waktu pada tahun 1931 sentral telepon pun menambahkan fungsinya menjadi kantor pelayanan telepon untuk masyarakat umum. Ketika Jepang mengambil alih penjajahan dari Belanda pada rentang waktu 1942-1945, sentral telpon pun dikembalikan fungsinya untuk keperluan militer.

 

Setelah merdeka, sentral telpon sepenuhnya menjadi milik Indonesia. Hingga akhirnya menjelang tahun 1960, fungsi sentral telepon berubah menjadi markas komunikasi Militer Kodam
I/Iskandarmuda yang disebut Wiserbot (WB) Taruna. Sayangnya, sentral telepon pada masa modern tidak dirawat dengan baik. Setelah tidak lagi ditempati sebagai markas komunikasi Militer Kodam, sentral telepon sempat berubah fungsi menjadi kantor KONI, kantor media Atjeh Post, hingga kantor PSSI Aceh.

 

Jika kamu penasaran seperti apa sentral telepon, bisa langsung berkunjung di pangkalan Jalan Teuku Umar, Banda Aceh yang tidak jauh dari pusat kota.

 

Baca juga: Unik! Motor dengan Bahan Bakar Air di Aceh

 

 

 

Wisata Sejarah Situs Purbakala Loyang Mendale Aceh

 

Lokasi-Loyang-Mendale

via: http://boynashruddinagus.blogspot.co.id false-false-false-in-x-none-x.html

Penasaran dengan asal muasal Aceh pertama kali ditempati oleh siapa? Sekarang saatnya mengetahui kisahnya dari Situs Loyang Mendale.

 

Loyang Mendale yang pada awalnya sebuah tempat yang terabaikan menjadi sebuah tempat penemuan sejarah. Semuanya bermulai dari penelitian yang dilakukan Tim Balai Arkeologi Medan yang dipimpin oleh Ketut Wiradnyana pada 2007. Ketut dan tim ternyata menemukan sisa-sisa peralatan pra sejarah, di antaranya batu kapak persegi yang ditemukan pada kedalaman 40 centimeter dari permukaan tanah.

 

Setelah menemukan perlengkapan masa pra sejarah tersebut Ketut kembali melakukan penelitian pada 6 Maret 2009 untuk mencari bukti-bukti kuat lainnya tentang asal muasal kehidupan
manusia pra sejarah di Aceh dan merupakan awal peradaban kehidupan.

 

Lagi-lagi Ketut dan timnya menemukan kerangka yang dihimpit oleh batu besar di bagian panggul dan kepala kerangka yang merupakan jenazah yang dikuburkan dalam sebuah prosesi pemakaman pra sejarah.

 

Berbagai temuan di Loyang Mendale ini akhirnya menjadi penanda bahwa kehidupan di Aceh sudah dimulai pada zaman peralihan mesolitik ke neolitik yang terjadi lebih dari 5.000
tahun silam. Tepatnya zaman batu pertengahan serta zaman Haobinhian ketika manusia
sudah berburu dan menangkap ikan serta mencari hasil hutan yang digunakan untuk bertahan hidup.
Jadi, jika kamu sedang berkunjung ke Aceh, kami menyarankan untuk berkunjung ke Situs prasejarah Loyang Mendale yang terletak di pinggiran wisata Danau Lut Tawar, yang terdapat di
dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.

 

 

 

Objek Sejarah Benteng Indra Patra Krueng Raya

 

Wisata-benteng-indra-patra

via: http://nediarjuliadi.wordpress.com patra-krueng-raya-aceh/

Bicara Aceh, kita tidak hanya tentang kerajaan Islam, namun juga berbicara tentang kerajaan Hindu yang sempat berkuasa di sini. Salah satunya adalah sebuah benteng bekas
kerajaan yang berada dekat dengan pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

 

Benteng Indra Patra dibangun pada abad ke-7 Masehi oleh Putra Raja Harsa dari Kerajaan Lamuri, yang merupakan kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra).Benteng Indra Patra merupakan bagian dari 3 benteng dalam Trail Aceh lhee Sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe adalah
wilayah yang menghubungkan tiga peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh.

 

Uniknya untuk mencapai bagian dalam benteng ini perlu memanjat terlebih dahulu atau dengan tangga yang telah disediakan.

 

Ciri khas dari objek sejarah ini adalah terdapatnya empat buah benteng yang tiga diantaranya membentuk rangkaian segitiga seakan melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan musuh.

 

Selain itu, kamu juga akan menemukan empat buah stupa pada benteng utama, yang menyerupai kubah dan terdapat sumur di dalamnya. Sumur tersebut dahulunya dimanfaatkan umat Hindu
untuk penyucian diri menjelang ibadah.

 

Pada bagian benteng lainnya kamu akan melihat tiga bunker yang dibuat untuk melindungi dari dari musuh. Bunker pertama berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan senjata.
Sementara itu dua bunker lainnya di depan bangunan benteng merupakan tempat peletakan meriam.

 

Penasaran seperti apa? Kamu bisa berkunjung ke pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar untuk melihat langsung jejak sejarah yang terdapat di benteng ini.

 

 

Wisata Peninggalan Sejarah Kerajaan Linge Aceh Tengah

 

kerajaan-linge-Aceh

via: http://www.sub12.kawunganten.com kerajaan-linge-dan-islam.html

Objek wisata sejarah berikutnya adalah Kerajaan Linge yang didirikan pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Catatan sejarah mengungkapkan bahwa Adi Genali mempunyai empat orang anak yaitu: Empuberu, Sibayak Linge, Merah Johan dan Merah Linge.

 

Kerajaan Linge merupakan penguasa wilayah Aceh dengan kekuasaan terluas di masanya. Terlebih lagi, Kerajaan Linge merupakan salah satu Kerajaan Utama pendukung berdirinya
Kerajaan Aceh Darussalam.

 

Bahkan, Raja pertama Kerajaan Aceh Darussalam adalah orang Gayo asli dan putra kandung Reje Linge yang bernama Merah Johan atau yang dikenal dengan gelar Sultan Ali Mughayatsyah.

 

Karena sangat besar dan berkuasa pada saat itu, Kerajaan Linge pun menjadi sentral kekuatan dan ekonomi bagi semua Kerajaan yang lebih kecil yang berada di pesisir pantai Aceh. Bahkan Kerajaan Linge pada masa itu diberikan kuasa untuk mencetak mata uang sendiri.

 

Penasaran seperti apa? Kamu bisa berkunjung langsung ke Gayo yang terletak di Aceh Tengah.

 

Baca juga: Hukuman Syari’ah ala Aceh

 

 

 

Objek Sejarah Mercusuar Williems Toren Aceh

 

menara-william-toren

via: http://alfahrul88.blogspot.co.id toren-di-pulo-aceh.html

Terakhir, mari berkunjung ke sebuah menara yang sudah berusia 139 tahun. Sebuah monumen yang dibangun untuk diberikan pada Raja Belanda Williem III pada tahun 1875.

 

Meskipun sudah berusia ratusan tahun, menara setinggi 85 meter ini masih berdiri kokoh dan cukup terawat. Asal muasal pemberian nama Williems Toren adalah untuk menghormati Agung Luxemburg Williem Alexander Paul Frederick Lodewijk, atau lebih dikenal William III, karena dianggap berandil besar membangun Kolonialisme Belanda di Asia.

 

Pembangunan mercusuar ini pada awalnya hanya digunakan sebagai lampu suar sebagai persiapan pembangunan Pelabuhan Sabang, yang menjadi lintasan Selat Malaka dan Samudera Hindia. Mercusuar tersebut sangat berguna untuk membantu kapal-kapal koloni yang melintas di Selat Malaka dan Samudera Hindia untuk membantu kapal-kapal asing yang singgah di Pulau Weh, Sabang.

 

Tidak hanya itu, komplek tempat berdirinya mercusuar juga dijadikan sebagai benteng bagi para tentara Belanda yang sedang bertugas menjaga perbatasan laut.

 

Hingga kini, meskipun berusia 139 tahun menara ini masih digunakan untuk membantu kapal-kapal yang sedang melewati perairan internasional.

 

Ingin menikmati cerita-cerita apa saja yang terjadi di mercusuar ini? Kamu bisa berkunjung langsung ke Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori