5 Wisata Religi Surabaya Wajib Dikunjungi

Inilah beberapa lokasi wisata religi yang wajib kamu kunjungi ketika ke Surabaya. Tingkatkan keimanan sambil berwisata. Dijamin, kamu nggak akan menyesal!
0
5 Wisata Religi Surabaya Wajib Dikunjungi
0 (0%) 0 votes
sunan bangkul

Hello-PET akan mengupas tempat wisata religi yang ada di kota Surabaya. mulai dari berbagai latar belakang dan agama. Keajaiban, kedamaian, mukjizat, dan kekaguman akan Anda rasakan saat mengunjungi tempat wisata religi yang ada di Surabaya. tempat-tempat tersebut memiliki kisah dan pengalaman sejarah yang berbeda-beda.

 

 

 

 

 

 

 

Kelenteng Hong Tiek Hian

 

Kalau berkunjung ke kawasan Pecinan Surabaya, Anda akan menjumpai klenteng yang usianya sudah lebih dari tujuh abad. Dinamakan Klenteng Hong Tiek Hian dan dibangun sekitar abad ke-13, oleh tentara Tartar yang berada dibawah kepemimpinan Kubilai Khan. pada saat itu Kubilai Khan bersama rombongannya melakukan perjalanan ke Nusantara. Sesampai di Surabaya mereka membangun tempat beribadah yang ia arsiteki sendiri.

 

 

 

 

Rumah ibadah umat Kong Hu Cu ini sering juga disebut sebagai Kelenteng Dukuh, karena terletak di Jalan Dukuh, kawasan Pecinan Surabaya. Bangunannya seperti kelenteng pada umumnya, didominasi oleh warna merah. Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Surabaya yang dibangun pada awal kerajaan Majapahit.

 
Tanpa halaman depan, bangunan ini terdiri dari 2 bangunan, 2 tingkat yang dipisahkan oleh Gang Dukuh II. Antar bangunan dipersatukan oleh sebuah jembatan yang dijaga oleh 2 ekor simbol naga.Pada lantai bawah terdapat Altar Macko dan Kong Co. Pada lantai atas terdapat Altar untuk Budha, Dewi Kwan Im dan beberapa dewi-dewi lainnya. Di tempat ini juga dijual perlengkapan sembahyang.

 

Klenteng ini menjadi landmark kawasan Pecinan Surabaya tepatnya di timur Jembatan Merah. Klenteng ini sudah terdiri dari dua bangunan utama. Di antaranya kedua bangunan terdapat gang bernama Gang Dukuh. Tempat tersebut merupakan gang yang sekaligus menjadi jalan utama menuju ke pemukiman penduduk tersebut di tampak gapura bergaya Tiongkok.

 

 

 

Apabila Kedua bangunan utama itu saling dihubungkan dengan jembatan yang disangga dengan 2 tiang maka keduanya dihiasi ukiran naga berwarna hijau. Naga dalam tradisi Tionghoa merupakan lambang pengusir roh yang jahat.

 
di sisi lain terdapat alat peribadatan seperti lilin, hio dan uang-uangan kertas yang disediakan untuk umat Buddha yang ingin beribadah. Ketika beribadah umat Buddha hanya akan mengandalkan lilin sebagai penerangan utama. Lilin merah tersebut berukuran besar, dan juga banyak terdapat di sisi kiri dan kanan altar. Lilin tersebut melambangkan keseimbangan seperti halnya Yin dan Yang serta penerangan batin.

 

 

 

Selain  indah dan menawan, klenteng ini juga masih mempopulerkan wayang potehi. wayang potehi merupakan pertunjukan seni khas yang sangat terkenal sehingga sangat sayang apabila Anda melewatkan pertunjukkan tersebut. pertunjukan ini hanya diadakan di panggung boneka, yang terletak di sebuah ruangan berukuran 4×4 meter dengan diiringi suara tambur dan gembreng. Supaya dapat menikmati pertunjukkan tersebut hendaknya anda datang pada waktu sore hari. Wayang boneka ini yang terbuat dari kain ini digerakkan oleh tangan sang dalang. Dikenal sejak sekitar tiga ribu tahun lalu di cina, pertunjukkan ini menceritakan kisah dalam bahasa Mandarin yang berisi pesan moral.

 

 

Ketika malam hari, klenteng ini akan terlihat begitu syahdu. Bangunan ini memancarkan kekhidmatan yang sangat mendalam. Wangi hio memenuhi ruangan, umat Buddha khusyuk bersembahyang, memanjatkan doa dan pengharapan. Mereka membakar beberapa batang hio dan disentuhkan ke dahi sebanyak tiga kali, kemudian batang hio diletakkan ke hio lo atau tempat hio.

 

 

Dan juga klenteng ini sangat menarik minat banyak fotografer. Di sana mereka bisa mengabadikan setiap momen dalam kamera dengan berbagai angle. Tidak hanya itu, pertunjukkan wayang potehi juga menjadi pilihan menarik untuk objek photo hunting.

 

 

 

 

Pura Agung Jagat Karana

 

Pura Agung Jagad Karana ini terletak di jalan Gresik – Surabaya atau di Jalan Ikan Lumba-lumba, Perak Barat, Krembangan dekat Museum TNIAL Loka Jala Crana. Lokasi ini jauh dari keramaian dan membuat suasana tempat ini tenang dan hikmat. Tempat ibadah ini dibangun tahun 1968 dan diresmikan pada hari Sabtu, 29 November 1969 oleh Ibu R Sahiran. Peresmian ini bertepatan dengan hari Saraswati yang dikenal sebagai dewi ilmu pengetahuan.

 

 

 

Dan pura ini sangat ramai dikunjungi menjelang hari raya Nyepi, apalagi pada saat upacara Melasti. Umat Hindu datang dari berbagai daerah untuk sembahyang dari Surabaya, Sidoarjo, Lamongan dan Gresik. Perayaan ini akan diakhiri dengan arak-arakan sesajen, pratime, umbul-umbul dan berbagai peralatan sembayang lain. Mereka akan mengenakan pakaian serba putih. Dari pura agung jagad karana ini mereka akan berjalan sejauh tiga kilometer menuju ke pantai di Kompleks TNI AL sambil diiringi suara tetabuhan. Ketika puncak acara, dan juga akan dilakukan larung sesaji ke laut yang bermakna untuk simbol penyucian diri dan melepaskan segala kotoran baik berupa perkataan, pikiran dan ataupun perbuatan yang terdahulu.

 

 

 

 

Acara puncak akan sangat sayang untuk Anda lewatkan adalah upacara tawur yang diadakan sehari sebelum hari perayaan Nyepi. Upacara Tawur Kesangan atau juga disebut upacara Buta Yadnya ialah upacara untuk menghaturkan pecaruan kepada Sang Bhuta Kala, bertujuan agar tidak mengganggu umat. Acara diakhiri dengan diadakannya pawai ogoh-ogoh yang diarak sampai ke pusat kota Surabaya. Oleh sebab itu, sebaiknya jika Anda berniat berkunjung ke Pura Agung Jagad Karana, datanglah ketika menjelang hari raya Nyepi. elain itu bisa juga untuk menambah pengetahuan tentang khasanah antar umat beragama dam juga merupakan nilai tambah kearifan lokal.

 

 
Tak hanya sekedar menonton saja  berbagai upacara yang diadakan oleh Pura Jagad Karana, Anda juga dapat memanfaatkan berbagai momen tersebut dengan mengabadikannya melalui kamera anda. Pura ini  juga terdiri dari tiga bagian yaitu Mandala Utama (Jeroan), Mandala Madya (Jaba Tengah) dan Mandala Nisata atau Jaba Luar.

 

 

 

Gereja Katholik Santa Perawan Maria

 

Bangunan gereja yang satu ini merupakan salah satu cagar budaya yang ada Kota Surabaya yang dibangun ketika abad ke-18. Adapun bahan-bahan utama bangunan seperti tembok dan bata berasal dari eropa. Bangunan gereja ini masih seperti aslinya, hanya saja di bagian kaca-kaca dibuat modern dengan gambar-gambar yang mengandung arti.

 

 

 

Pasar Ampel

 

Pasar Ampel ini merupakan suatu kawasan pemukiman orang-orang berdarah Arab dan India yang ada dan menetap di Surabaya. Mereka juga banyak menjual barang-barang ibadah buat keperluan haji dan umroh. Kalau mau mencari sajadah, mukenah, henna, kurma sampai air zam-zam semuanya ada di sini. Dan waktu bulan puasa, Pasar Ampel ini bakalan tambah ramai karena banyak bazaar. Kamu bisa menemukan makanan-makanan Arab atau India seperti roti maryam, nasi kebuli atau kambing oven, semuanya enak! Tempat makan legenda yang wajib dicoba di sini ialah depot yaman. Pasar Ampel terletak di jalan KH Mas Mansyur Surabaya, hanya sekitar 10 menit dari Kembatan Merah Plaza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makam Ki Ageng Bungkul

 

Makam Ki Ageng Bungkul merupakan salah satu tempat wisata religi yang ada di Surabaya yang wajib anda kunjungi. Hampir semua orang yang pernah ke Surabaya pasti tahu Taman Bungkul, Lokasi ini merupakan pusat program car free day yang diadakan Pemkot Surabaya setiap minggu. di Taman Bungkul selain banyak terdapat taman yang indah, tempat bermain, juga tersimpan sejarah dan makam Mbah Bungkul yang melegenda. 700 tahun silam sebelum bernama Surabaya, tempat ini lebih dikenal dengan “Pertapaan Mbah Bungkul”. Tidak hanya orang tua dan anak-anak yang berkunjung ke taman, namun banyak kalangan muda-mudi juga nongkrong di sekitar tempat ini. Maka tidak mengherankan lagi jika ada sebutan dari kalangan masyarakat untuk kawasan Bungkul yaitu “siang agamis, malam romantis”.

 

 

 

Meskipun demikian, tidak menafikkan jika masih ada sejumlah warga yang menilai adanya sisi keramat dan juga sakral di Makam Sunan Bungkul. Sehingga masih ada pengunjung yang datang dari luar kota seperti Kediri, Blitar, Malang, Pasuruan, Sidoarjo dan Tulungagung. Jika pada saat liburan dan bulan Ramadhan, maka tingkat kunjungan sampai mencapai ribuan orang, sedangkan pada hari normal berkisar 100 orang saja.

 

 

 

Selain pengunjung perorangan, tidak sedikit juga mereka datang berombongan dengan menumpang bus dari berbagai daerah di indonesia.pada umumnya , para peziarah merangkai jadwal kunjungannya bersamaan dengan ziara ke makam sembilan wali yang tersebar di Jawa Timur dan juga Jawa Tengah.

 

 

 

Banyak pengunjungnya baik laki-laki maupun perempuan dengan berbagai keyakinan untuk mendatangi tempat ini.dan juga Mereka meyakini Mbah Bungkul adalah sosok kharismatik yang membantu perjuangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) menyebarkan Islam di Jawa Timur.

 

 

 

Namun ada beberapa versi bahwa Sunan Bungkul ialah Ki Ageng Supo, atau biasa disebut Mpu Supo, yaitu seorang bangsawan Majapahit yang setelah masuk Islam menggunakan nama Ki Ageng Mahmuddin.

 

 

Dan juga sunan bungkul adalah salah satu mertua Raden Paku, yang kemudian juga dikenal sebagai Sunan Giri, akan tetapi setelah Raden Paku secara tidak sengaja memungut buah delima di Sungai Kalimas. Tanpa diketahuinya, Sunan Bungkul telah memiliki niatan bahwa barang siapa yang menemukan buah delima itu maka ia jodohkan dengan puterinya yang bernama Dewi Wardah.

 

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori