Menelusuri Wisata Religi Jogjakarta Kaya Budaya

Menelusuri jejak sejarah tidak akan pernah ada habisnya. Bagaimana bila Anda melakukan wisata religi Jogjakarta dan menemukan harta karun tak ternilai di sini?
0
Menelusuri Wisata Religi Jogjakarta Kaya Budaya
0 (0%) 0 votes
http://bujangmasjid.blogspot.co.id/2012/09/masjid-agung-mataram-kotagede.html

Para wisatawan akan mendapatkan pengalaman berharga ketika menikmati wisata religi di Jogjakarta. Menelusuri sejarah masuknya agama ke daerah ini bisa dilihat dari peninggalan bangunan dan budaya yang melekat pada masyarakat sekitar.

 

Lantas, tempat wisata religi seperti apa yang bisa ditemukan selama berkunjung ke Jogjakarta? Ikuti ceritanya berikut ini.

 

 

Sendang Sriningsih

Pertama kali ditemukan pada tahun 1934, Sendang Sriningsih, merupakan tempat ziarah bagi umat Katolik. ua Maria tersebut berawal dari sebuah sumber mata air bernama Sendang Duren yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang angker atau sakral. Sendang tersebut tepatnya di dusun Jali, desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman. Dusun Jali adalah sebuah dusun di lereng bukit Mintaraga, Selatan kota Klaten. Tempat tersebut dalam tradisi Jawa menjadi tempat semedi.

 

Layaknya tempat ziarah umat Katolik, Sendang Sriningsih pun memiliki ciri khas yang sama yaitu, dengan kehadiran jalan salib. Selain itu, terdapat juga, Gua Maria dan air sendang yang bertuah dan akan menjadi perantara rahmat Tuhan untuk umat-Nya.

 

Salah satu pelayanan Gua Maria Sendang Sriningsih adalah Novena Jumat Kliwonan. Novena tersebut diadakan setiap hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon di sepanjang tahun dengan perayaan Ekaristi pada malam hari dan penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus. Novena tersebut selalu dipadati oleh para peziarah.

 

Bagi pengunjung dari Jogjakarta yang hendak berziarah bisa menuju ke arah Prambanan bisa kemudian naik angkutan kecil sampai di Pasar Menggah dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik ojek sampai dusun Jali (Gereja St. Maria Marganingsih Jali).

 

 

Baca juga: Asyiknya Wisata di JogJakarta 

 

 

 

 

Makam Imogiri

Makam raja-raja Mataram dikenal juga dengan Makam Imogiri terletak di desa Ginirejo, Imogiri, Bantul, Jogjakarta. Didirikan sekitar tahun 1632 sampai 1640 Masehi, oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram yang ke-3. Arsitek komplek makam ini adalah Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo. Selang 13 tahun kemudian pada tahun 1645 Sultan Agung wafat dan dimakamkan di Imogiri.

 

 

Jika ingin berkunjung dan berziarah, Anda harus didampingi juru kunci makam. Peraturan yang ketat jika berkunjung adalah menggunakan pakaian budaya adat Jawa. Para peziarah dilarang menggunakan alas kaki, membawa kamera, memakai perhiasan terutama dari emas dan harus mengenakan pakaian khas Jawa atau peranakan. Untuk peziarah laki-laki harus mengenakan pakaian jawa berupa blangkon, beskap, kain, sabuk, timang dan samir. Sedangkan untuk peziarah perempuan harus memakai kemben dan kain panjang.

 

Satu lagi yang menjadi tradisi dari makam Imogiri setiap hari Jumat atau Selasa Kliwon pada bulan Muharam, akan diadakan perayaan nguras padasan Kong Enceh. Sebuah ritual menguras empat buah gentong besar yang digunakan sebagai tempat untuk mensucikan diri.

 

 

 

 

Gereja Ganjuran

Bergeser ke selatan Jogjakarta, tepatnya di wilayah Bantul, sebuah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dibangun dan menjadi sebuah lokasi wisata religi yang mengagumkan. Sejarah berdirinya Gereja dan Candi Ganjuran merupakan prakarsa dari keluarga Schmutzer. Merupakan gereja Katolik pertama yang didirikan di kabupaten Bantul. Kompleks Gereja dan Candi Ganjuran terletak di dusun Ganjuran, desa Sumbermulyo, kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Pembangunan gereja selesai tanggal 16 April 1924, dan diberkati pada 20 Agustus 1924 oleh Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M van Velsen.

 

Perpaduan konsep agama dan budaya menjadi satu melalui Gereja Ganjuran terlihat dari arsitektur Belanda plus corak Hindu-Buddha-Jawa. Gedung gereja dibuat dengan gaya joglo serta dihiasi dengan ukiran Jawa. Sementara itu altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang orang.

 

Selain itu Yesus dan Bunda Maria pun ditampilkan dengan busana campuran Jawa dengan Hindu. Meskipun gereja ini bukanlah tempat wisata, namun masyarakat yang bukan umat Katolik juga diperbolehkan untuk berkunjung.

 

 

Baca juga: Yuk! Kenali tempat wisata yang belum populer di Jogjakarta

 

 

 

Gua Maria Tritis

Gua yang awalnya begitu gelap dan terkesan mistis, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang khusyuk untuk beribadah.

 

Melalui gua ini, para jemaat diajarkan untuk tetap hidup dalam kesederhanaan serta menghargai dan mensyukuri setiap hal yang telah diberikan Tuhan. Pada tahun 1978, dibangun sebuah jalan salib sederhana dengan diorama kisah sengsara Yesus.
Diiringi denting tetes air yang jatuh di bak penampungan, aura damai seakan mengajak para peziarah bertemu langsung dengan Sang Pencipta. Peziarah bisa berdo’a langsung di patung Bunda Maria yang juga sedang berdo’a.

 

Gua Maria Tritis merupakan tempat wisata religi di Jogja yang terbuat dari gua alami yang lengkap dengan stalagtit dan stalagmit. Berada di Dusun Bulu, Kabupaten Gunung Kidul, Wonosari.

 

 

 

 

Klenteng Gondomanan

Berjalan-jalan di sekitar Gondomanan, Anda akan menemukan satu kuil yang dikenal dengan Klenteng Gondomanan yang bernama Klenteng Bhudda Prabha. Awal mulanya Klenteng ini bernama Fuk Ling Miau  (Hok Ling Bio / Hokkian ) yang berarti klenteng berkah tiada tara. Klenteng Buddha Prabha didirikan pada tahun 1907 oleh seorang Mayor Tionghoa bernama Yap Ping Liem.

 

Berdasarkan fakta sejarahnya, Klenteng Buddha Prabha dulunya adalah klenteng yang didirikan di atas tanah seluas 1150 meter per segi  hibah Kraton Kesultanan Yogyakarta  pada tanggal 15 Agustus 1900 masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII.

 

Berlokasi di daerah Gondomanan tepatnya Jalan Brigjend. Katamso Nomor 3, Kota jogyakarta merupakan bangunan yang memilki nilai sejarah dan spiritual yang  penting bagi  perkembangan budaya Tionghoa di Yogyakarta. Sejak tahun 2007 ditetapkan sebagai cagar budaya.

 

 

 

 

Masjid Agung Kotagede Mataram

Kerajaan Mataram boleh saja runtuh ratusan tahun yang lalu, namun salah satu peninggalan sejarahnya masih bisa dinikmati hingga saat ini. Sebuah bangunan bernama Masjid Agung Kotagede Mataram, tempat ibadah umat muslim tertua di Jogjakarta ini didirikan pada tahun 1640 oleh Sultan Agung.

 

Budaya Jawa pun mengalir kuat pada masjid ini. Salah satunya adalah dengan kehadiran pohon beringin yang konon sudah berusia ratusan tahun. Pohon ini bernama Wringin Sepuh dan bagi masyarakat sekitar diyakini dapat memberikan berkah.

 

Ruangan di masjid ini terbagi menjadi dua, yaitu inti dan serambi. Satu lagi keunikan dari masjid ini adalah kehadiran bedug tua yang hingga saat ini masih digunakan sebagai penanda waktu untuk ibadah salat.

 

Baca juga: Wisata air yang seru di Jogjakarta

 

 

 

 

Masjid Sulthoni Plosokuning

Masjid ini didirkan diatas tanah sebesar 2.500 meter persegi dengan luas bangunan seluas 288 meter persegi pada saat dibangun dan mengalami pengembangan hingga saat ini menjadi 328 meter persegi. Merupakan milik kasultanan Jogjakarta pada saat kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Berada di jalan Plosokuning Raya No. 99, desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

 

Berdasarkan sejarah awalnya, masjid ini didirikan dengan posisi pintu masjid hanya satu dan sangat rendah. Pada bagian gerbang masjid terdapat undakan yang dibuat sedemikian rupa untuk menunjukkan beberapa hal. 3 undakan pertama menunjukkan 3 elemen yakni iman, Islam, dan ikhsan. Kemudian 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun islam ada 5, dan 6 undakan ke tiga bertujuan menunjukkan bahwa rukun uman ada 6.

 

Tujuan dibuatnya pintu yang rendah adalah agar setiap orang yang masuk ke dalam masjid harus menunduk untuk menunjukkan tata krama serta sopan santun pada masjid.

 

Serunya wisata religi di Masjid Sulthoni Plosokuning akan semakin menarik ketika pada momen tertentu dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti keluarga keraton.

 

 

 

 

Makam Raja Mataram Kotagede

Kotagede tidak hanya terkenal dengan souvenir perak saja. Ada satu tempat wisata religi yang bisa Anda kunjungi. Di sini tempat raja Mataram Islam pertama dimakamkan yaitu Panembahan Senopati beserta keluarganya. Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan berdekatan dengan makam ayahnya.

 

Bangunan-bangunan di sekitarnya juga sangat unik karena perpaduan antara tiga agama sekaligus yaitu Budha, Hindu dan Islam. Jika Anda memasuki komplek ini, suasana tenang dan sunyi akan sangat terasa. Anda bisa berkunjung ke makam-makan di antaranya adalah Sultan Hadiwiijaya dan Ki Gede Pemanahan.

 

Bagi yang ingin menikmati wisata religi di makam ini, jangan melakukannya sembarangan. Pengunjung harus mengenakan busana adat Jawa yang bisa disewa di sekitaran makam.
Selain itu tidak diperbolehkan untuk memotret dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam.

 

Pengunjung hanya boleh datang di hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Makam ini terletak di Dusun Dondongan, Desa Jagalan Kotagede, Bantul.

 

 

Baca juga: Tempat wisata yang bikin kamu betah berlama-lama di Jogjakarta

 

 

 

 

Pura Vaikuntha Vyomantara

Jika Anda ingin melakukan wisata religi di sebuah pura,  Vaikuntha Vyomantara adalah pilihannya. Terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogjakarta, yaitu di kawasan Kompleks AU di daerah Janti dan dibangun di atas lahan seluas lebih dari 5000 meter persegi. Meskipun berada di lingkungan TNI Angkatan Udara, suasanya tidak terlalu kaku.

 

Pura Vaikuntha Vyomantara artinya alam tempat Dewa Wisnu mencapai kesempurnaan tertinggi. Luhuring Acintya atau pura angkasa yang penuh dengan tanaman suci dan tempat untuk mencapai ketenangan, kebijaksanaan, dan pengetahuan suci ( dari kitab Suci Wisnu Purana ).

 

Pura ini tidak hanya dinikmati umat Hindu yang ingin mengikuti persembahyangan saja, namun juga bagi masyarakat umum yang ingin menikmati suasana dan lingkungan pura. Sembahyang biasanya dilaksanakan tepat pada pukul 17.00 WIB setiap rerahinan Purnama dan Tilem.

 

 

 

 

Masjid Gedhe Kauman Jogja

Berwisata di sekitar Keraton Kesultanan Jogjakarta, jangan lupa untuk mampir ke Masjid Gedhe Kauman. Naman lain dari tempat ibadah umat muslim yang sering terdengar ketika berkunjung ke Jogjakarta adalah Masjid Agung Keraton.

 

Masjid Kauman didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I dan saat ini tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya Nasional. Arsitek dengan nuansa Jawa sangat terlihat jelas dari masjid ini. Terdapat pula ornament-ornamen klasik yang tetap bertahan sejak awal dibangun.

 

Masjid Gedhe yang didirikan di atas tanah seluas 16.000 meter per segi  ini pembangunannya dilaksanakan delapan belas tahun setelah berdirinya kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Pada tahun 1936 atas prakarsa Sultan Hamengku Buwana VIII pula diadakan penggantian lantai dasar masjid, dari batu kali kemudian diganti dengan marmer dari Italia. (Sumber : H. A. Adaby Darban S.U. )

 

Baca juga: 12 Tempat wisata yang paling dikenal saat menuju Jogjakarta

 

 

Berkunjung ke Yogyakarta tidak akan lengkap tanpa menikmati sajian wisata religinya. Yuk! Ceritakan pengalaman seru wisata religi Anda bersama kami!

 

 

Hello Comment 1Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori