3 Wisata Alam Terbaik Di Jawa Barat Ini Akan Membuatmu Baper

Namanya juga Bumi Parahyangan. Karena itulah Jawa Barat mempunyai segudang surga yang membuat susah move on pengunjungnya. Penasaran? Simak dulu artikel ini.
0
3 Wisata Alam Terbaik Di Jawa Barat Ini Akan Membuatmu Baper
0 (0%) 0 votes
cikaso 3

Indonesia sesuai dengan julukannya, Jamrud Khatulistiwa, disebut juga tanah surgawi bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Bagaimana tidak? Dari Sabang sampai Merauke, banyak tempat-tempat indah yang tak akan membuat pengunjungnya bosan mengunjunginya.

 

 

Misalnya saja di Jawa Barat. Provinsi dengan julukan Bumi Parahyangan ini menyimpan banyak surga-surga yang akan membuat kamu malas pulang jika mengunjunginya. Untuk itu, kali ini hello-pet akan merangkum sedikit surga-surga tersebut. Siapa tahu kamu tertarik untuk mengunjunginya.

 

 

Pesona Curug Malela Bandung Barat

 

Jika Amerika mempunyai Air Terjun Niagara, ternyata di Indonesia ada air terjun yang serupa dengan air terjun Niagara ini lho. Hanya saja air terjun ini jauh lebih kecil dibandingkan air terjun Niagara. Ya. Curug Malela yang terletak di Kabupaten Bandung Barat ini mungkin bisa dikatakan sebagai miniatur air terjun Niagara karena bentuknya yang mirip. Dengan tinggi kurang lebih sekitar 60 – 70 meter, debit air yang deras, dan letaknya yang tersembunyi, Curug Malela bisa dikatakan sebagai salah satu curug terindah di Jawa Barat.

 

 

Lokasi Curug Malela berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya memang cukup jauh dari Kota Bandung, dan untuk menuju ke air terjun Curug Malela ini memang diperlukan perjuangan ekstra. Kita harus trekking membelah bukit sekitar dua kilometer dari lokasi parkir di desa Cicadas. Tampaknya, bagi yang tidak biasa trekking, lutut rasanya ingin lepas. Tapi, pemandangan sepanjang jalur menuju Curug Malela ini akan menjadi obat. Apalagi ketika sudah sampai di lokasi. Dijamin kamu akan malas pulang.

 

 

Air terjun dengan pemandangan cantik ini mempunyai tinggi sekitar 60 – 70 meter, dengan lebar sekitar 50 meter. Curug ini mempunyai lima aliran air terjun dengan debit air yang cukup deras, membuatnya nampak gagah dan indah. Nah, karena debit airnya yang cukup deras, sebaiknya kamu jangan bermain sampai ke tengah-tengah, karena cukup berbahaya. Konon, menurut warga sekitar, sudah banyak korban yang hanyut terbawa arus. Jadi, kamu harus ekstra hati-hati jika bermain air di air terjun ini.

 

 

Biasanya warga sekitar juga akan memperingatkan pengunjung untuk hati-hati. Kalau dilihat dari kejauhan, Curug Malela ini seolah-olah terlihat seperti tirai raksasa halus berwarna perak yang bersinar dan berkilauan. Di pinggir kanannya, kamu akan melihat tebing tinggi berwarna putih yang mengarah ke bawah air terjun, yang membuatnya tampak begitu eksotis.

 

 

Di sekitar Curug Malela ini tidak terdapat fasilitas-fasilitas seperti toilet, musala, apalagi warung. Warung dan fasilitas terdekat itu berada di area parkir yang jaraknya sekitar satu kilometer dari air terjun ini. Jadi untuk menuju ke sini, sebaiknya selain menyiapkan fisik, kamu juga menyiapkan bekal-bekal. Oh iya, di sekitar air terjun ini juga tidak terdapat penginapan. Jadi bila kamu ingin mengunjungi tempat ini, baiknya sejak pagi. Atau, kamu bisa membangun tenda di sekitar curug ini. Tapi jangan terlalu dekat dengan air, ya.

 

 

Untuk menuju ke Curug Malela, sangat disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi, karena aksesnya yang cukup sulit dan medannya yang berat. Jika menggunakan kendaraan pribadi, ada dua jalur untuk mencapai Curug Malela. Pertama melalui jalur Sukabumi atau Cianjur, yang ke dua dan umum serta lebih mudah, bisa melalui jalur dari Bandung atau Cimahi.

 

 

Jika mengambil jalur dari kota Cimahi, membutuhkan waktu sekitar tiga jam, dengan jalur Cimahi – Batujajar – Cihamelas – Cililin – Gunung Halu – lalu memasuki perkebunan teh Rongga. Jarak dari Kota Kecamatan Rongga ke lokasi curug masih sekitar delapan kilometer lagi. Dengan kondisi jalan dan medan yang berbatu dan curam sampai ke Desa Cicadas. Di sinilah tempat pengunjung  memarkir kendaraan. Kemudian setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki membelah hutan dan lembah dengan jarak kurang lebih dua kilometer.

 

 

Bila kamu menggunakan angkutan umum dari Bandung, kamu bisa memulai perjalanan dari Terminal Ciroyom menggunakan bus antar kota dengan rute menuju Buni Jaya yang melewati Ciroyom, Cililin, Sindang Kerta, Gunung Halu dan Rongga. Atau kalau kamu berangkat dari Terminal Leuwi Panjang, naiklah bus dengan jurusan Cimahi atau Cililin, kemudian lanjutkan dengan angkot ke Buni Jaya.

 

 

Turunlah di terminal Buni Jaya. Setelah sampai di terminal Buni Jaya, lanjutkan perjalanan ke Desa Cidadas dengan menggunakan ojek sejauh kurang lebih 12 kilometer menyusuri jalan yang bisa dibilang off road. Medan yang akan kamu lewati itu naik turun, berliku, dan berbatu. Setelah sampai di pinggiran Desa Cicadas, lanjutkan perjalanan dengan trekking atau berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah hutan sejauh kurang lebih dua kilometer. Sebaiknya kamu meminta warga sekitar untuk memandu kamu sampai ke air terjun ini. Supaya tidak tersasar nantinya.

 

 

Perjalanan yang berat bukan? Bagaimana? Berani mencoba meraih surga tersembunyi di air terjun penuh tantangan bernama Curug Malela?

 

 

 

Menjelajah Gunung Papandayan Garut

 

Kalau kamu belum pernah naik gunung dan ingin mencoba merasakan sensasi naik gunung, kamu bisa coba gunung ini. Gunung yang terletak di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut ini mempunyai ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (MDPL) atau berketinggian 1.950 meter dari Kota Garut. Gunung Papandayan merupakan gunung api yang masih aktif, sehingga kita masih bisa melihat aktifitas kawah gunung api di gunung ini.

 

Gunung Papandayan mempunyai jalur pendakian yang bisa dibilang mudah dan cukup landai dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Sehingga pendaki pemula ataupun wisatawan yang bukan pendaki, bisa dengan mudah mengunjungi gunung ini. Meskipun tidak terlalu tinggi dan mempunyai jalur pendakian yang bisa dibilang relatif mudah, pemandangan di Gunung Papandayan ini sangat beragam dan sangat indah.

 

 

Dari Camp David, yaitu titik start kamu memulai pendakian, di sebelah kanan kamu akan melihat tebing-tebing tinggi seperti yang dimiliki Grand Canyon. Tebing-tebing ini jika tertimpa sinar matahari akan terlihat berwarna kuning keemasan. Lalu kamu akan mendaki melewati kawah sehingga kamu bisa melihat aktifitas vulkanik Gunung Papandayan ini. Sebenarnya jika dari bawah kita mengambil jalur ke arah kiri menyebarangi sungai, kita bisa melihat sungai berwarna merah, genangan air belerang yang berwarna-warni, sampai akhirnya kawah baru yang berwarna biru turqoise. Namun untuk meraih tempat ini disarankan kamu harus menyewa pemandu yang bisa kamu temukan di Camp David.

 

Papandayan 2

Kawah Papandayan via: http://rimpala-ipb.blogspot.co.id

Papandayan 3

Kawah Baru Gunung Papandayan via: http://www.indonesiakaya.com

Papandayan 4

Sungai Merah via: http://instagram.com

 

Setelah melewati kawah, jika kamu haus, di sini sudah tersedia warung juga untuk kamu sekadar melepas lelah. Jarak dari Camp David melewati kawah ke titik ini sekitar 30 menit berjalan kaki. Dari titik ini, jika kamu ingin melanjutkan perjalanan, kamu bisa menyusuri jalur pendakian dengan pemandangan yang indah dan beragam. Sekitar 45 menit sampai satu jam perjalanan kamu akan sampai di area Gober Hut. Di sini kamu harus melaporkan diri ke petugas ranger yang berjaga di sana. dari sana, sekitar 30 menit berjalan dan menebus hutan Cantigi, kamu akan sampai di Pondok Saladah, yaitu camp ground yang dikelilingi pohon-pohon edelweiss. 15 sampai 20 menit berjalan lagi, kamu akan sampai di area Hutan Mati yang memberi kesan mistis.

 

 

Kamu bisa melakukan perjalanan bolak-balik seharian penuh. Jika kamu memutuskan untuk melihat lautan bintang pada malam hari dan sunset pada pagi hari, kamu bisa berkemah di tempat yang telah ditentukan. Yaitu Gober Hut atau Pondok Saladah. Di sini sudah banyak warung dan juga terdapat toilet lho. Sehingga kamu yang memang tidak terbiasa dengan mendaki gunung, tidak perlu khawatir. Akan tetapi, meski tidak seperti gunung Bromo atau Tangkuban Perahu yang memang dapat dicapai dengan mudah, untuk mendaki gunung Papandayan tetap membutuhkan perencanaan yang matang. Jangan lupa membawa masker untuk melindungi kamu dari asam sulfida yang keluar dari kawah. Jangan berlama-lama di area kawah jika kamu tidak ingin terpapar asam sulfida terlalu banyak.

 

Papandayan 7

Milky Way di Papandayan via: http://www.satyawinnie.com

Papandayan 8

Sunrise Papandayan via: http://instagram.com

 

Untuk sampai ke tempat ini, jika kamu menggunakan kendaraan pribadi, dari kota Jakarta atau Bandung kamu tinggal mengarah ke Kota Garut, lalu menuju ke arah Cisurupan melalui Jalan Raya Garut – Cikajang. Jika kamu menggunakan angkutan umum, naiklah bus jurusan Garut. Kamu akan turun di pemberhentian terakhir yaitu terminal Guntur. Dari situ kamu tinggal ikut rombongan pendaki menaiki elf sampai Cisurupan. Meski jika naik elf ini seolah kapasitas elf dipaksakan dan kamu akan duduk berdesakan. Setelah sampai di Cisurupan, tetap ikuti rombongan pendaki naik mobil bak sampai menuju ke Gunung Papandayan.

 

 

Nantinya, sebelum sampai Camp David, kendaraan yang kamu tumpangi akan diberhentikan untuk membayar biaya retribusi. Untuk biaya parkir, jika kamu membawa kendaraan pribadi akan dikenakan Rp17.000,- per hari. Biaya masuk pengunjung Rp30.000,- per hari. Jika kamu berkemah, akan dikenakan Rp35.000,- per hari. Itu harga untuk pengunjung lokal, ya. Untuk pengunjung mancanegara jauh lebih mahal yaitu sekitar Rp150.000,- per hari. Memang, semenjak dikelola swasta, harga masuk ke kawasan wisata Gunung Papandayan ini menjadi melonjak tinggi. Banyak juga pendaki yang mengeluhkan. Namun, rasa-rasanya semua itu sebanding dengan pemandangan yang pengunjung lihat.

 

 

 

Menjelajahi Curug Cikaso Sukabumi

 

Memang banyak sekali air terjun di daerah Jawa Barat. Salah satunya yaitu Curug Cikaso yang berada di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Tidak begitu jauh dari Pantai Ujung Genteng. Sebenarnya air terjun Curug Cikaso ini bukan objek wisata baru. Hanya saja tempatnya yang tersembunyi menjadikan air terjun ini tidak begitu populer. Namun, silakan kamu rasakan dan lihat sendiri keindahannya.

 

 

Waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah pagi hari, saat kamu masih bisa menikmati curug ini sebelum banyak pengunjung berdatangan. Matahari pagi yang bersinar juga akan menghasilkan bias pelangi dan kerling keemasan yang menambah pesona Curug Cikaso ini.

 

 

Di Curug Cikaso, air yang terjun ke kolam di bagian bawahnya berwarna hijau kebiru-biruan karena pengaruh ganggang. Kolam ini sendiri mempunyai kedalaman sampai 22 meter. Jadi, jika kamu ingin bermain-main di air terjun ini, kamu harus tetap berhati-hati dan waspada, ya. Curug Cikaso mempunyai tiga titik air terjun yang berdampingan dalam satu lokasi. Kedua titik air terjun dapat terlihat dengan jelas sedangkan yang satu agak tersembunyi dengan tebing yang menghadap ke timur. Nah, masing-masing air terjun di Curug Cikaso ini mempunyai nama masing. Yang ada di sebelah kiri bernama Curug Asepan, yang ada di tengah bernama Curug Meong, dan yang berada di sebelah kanan, yaitu yang menghadap ke timur, bernama Curug Aki. Ketiga curug ini mempunyai ketinggian kurang lebih 80 meter, dengan lebar curug sekitar 100 meter.

 

 

Air terjun Curug Cikaso ini berjarak tempuh sekitar 8 kilometer dari Surade, 15 kilometer dari Jampang Kulon, 30 kilometer dari Ujunggenteng, dan sekitar 110 kilometer dari Kota Sukabumi. Atau sekitar 70 kilometer dari Pantai Pelabuhan Ratu. Jika kamu ingin bermain ke tempat ini, sebenarnya tidak terlalu susah rutenya. Jika kamu menggunakan kendaraan pribadi dari Jakarta, ikutilah jalur Sukabumi yang menuju Ujung Genteng. Nanti kamu akan melewati beberapa tempat, dengan urutan rute Sukabumi – Jampang Kulon – Surade. Carilah Benderan Surade, dari sini kamu masih harus masuk lagi menuju pertigaan jalan Cikaso dengan kondisi medan offroad. Setelah sampai di pertigaan jalan Cikaso, di sinilah tempat kamu memarkir kendaraan kamu.

 

 

Jika kamu menggunakan angkutan umum, dari Stasiun Bogor kamu bisa menggunakan KA Pangrango sampai Stasiun Sukabumi. Setelah sampai di Stasiun Sukabumi, keluar stasiun lalu belok kiri dan susuri pasar. Setelah kamu berjalan kaki sejauh kurang lebih 100 meter, kamu akan sampai di persimpangan, belok kiri, lalu carilah angkot berwarna kuning jurusan terminal Lembursitu. Kalau kamu bingung, jangan ragu untuk bertanya, ya. Dari terminal Lembursitu, lanjutkan perjalananmu dengan menyambung angkutan dengan naik mobil elf jurusan Surade. Mintalah diturunkan di Bundaran Surade. Lalu dari sini naik ojek atau carter angkot menuju pertigaan Cikaso yang merupakan gerbang masuk air terjun Curug Cikaso, karena jaraknya masih sekitar 12 kilometer lagi. Gampang-gampang susah, bukan?

 

 

Dari gerbang tempat kamu memarkir kendaraan ini, yang juga sebagai gerbang masuk menuju Curug Cikaso, kamu tinggal melanjurkan perjalanan dengan dua pilihan. Pilihan pertama kamu bisa berjalan kaki sekitar 300 meter atau lima belas menit perjalanan, atau pilihan lainnya adalah menyusuri sungai dengan menggunakan perahu. Untuk biaya sewa perahu, kamu perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp60.000,- untuk sampai di air terjun ini.

 

 

Untuk biaya masuk Curug Cikaso ini, kamu perlu mengeluarkan uang sebesar Rp30.000,- jika kamu membawa kendaraan pribadi, plus parkir Rp6.000,- Ini berlaku juga jika kamu menuju ke sini menggunakan angkot, ya. Meskipun hanya mengantar, angkot tetap akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp30.000,-. Untuk biaya masuk, kamu akan dikenakan Rp3.000,- per orang. Di areal air terjun ini, fasilitas yang tersedia masih sebatas warung makan, kios, dan toilet umum yang berbayar dengan tarif Rp2.000,- sekali pakai.

 

 

Sementara untuk penginapan, sayangnya belum ada. Penginapan terdekat yaitu ada di kawasan Kelapa Condong, yang dapat diraih menggunakan angkot merah jurusan Tempat Pelelangan Ikan. Dari Tempat Pelelangan Ikan ini, kamu tinggal berjalan ke arah sebaliknya sekitar 100 meter. Dari situ sudah terlihat banyak penginapan dengan harga beragam, yaitu dari Rp100.000 sampai Rp1.000.000,-

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori