Ramli Sarip

Judul lagu Name penyanyi Penulis lirik Penyusun Tanggal rilis Lirik pertama

Teratai

Ramli Sarip none none none Oh teratai bunga...

Temasya Desa Gemalai

Ramli Sarip none none none Terbayang keindahanDi desa...

Tangan-tangan Amal

Ramli Sarip none none none Dalam berjuta cipta...

Syair Laila Majnun

Ramli Sarip none none none Terkulai di puncak...

Senandung Penghayal

Ramli Sarip none none none Menderu angin menderuHadirkan...

Senandung Hidup Berbudi

Ramli Sarip none none none Ombak lautan berombakMengapa...

Pak Kadok Si Pandir

Ramli Sarip none none none Bersamalah kita teruskan...

Negeri Hakiki

Ramli Sarip none none none Gemalai suasananya muhibahMemukau...

Ku Di Halaman Rindu

Ramli Sarip none none none Di tengah kepekatan...

Kau Yang Satu

Ramli Sarip none none none Kaulah Yang Maha...

Kalimah Terakhir

Ramli Sarip none none none Jauh sudah perjalananPahit...

Istilah Bercinta

Ramli Sarip none none none Kau kata kau...

Iqra’

Ramli Sarip none none none Gementar menggigilRoh yang...

Doa

Ramli Sarip none none none Kasihku dalam hidupkuTak...

Dikir Fikir

Ramli Sarip none none none Ke manakah arah...

Bukan Kerana Nama

Ramli Sarip none none none Jangan kau pandang...

Adam Dan Hawa

Ramli Sarip none none none Bila sendirian dalam...

Teratai

Oh teratai bunga indah
Engkaulah pujaan hatiku
Telah lama aku rindukan
Wahai teratai bunga indah

Sungguh cantik wajahmu
Sinar matamu bagaikan suria pagi
Setiap insan selalu terpikat
Memandang teratai bunga indah

( korus )
Ku tak menyangka
Wahai terataiku sayang
Badai taufan mendatang
Menghembus dirimu
Engkau pun terkulai
Dan merunduklah layu
Tak berseri lagi

Oh tolong, lindungilah dia
Agar ku dapat bersamanya lagi
Ku inginkan terataiku sayang
Berseri seperti semula
Teratai bunga indah

Temasya Desa Gemalai

Terbayang keindahan
Di desa kerinduan
Gemalainya berjalan
Kehidupan

Di ladang yang terbentang
Petaninya berjuang
Untuk mempertahankan
Warisan

( korus )
Bertemasyalah
Setelah kau berusaha
Bertemasyalah
Setelah kau bekerja
Bertemasyalah
Di landasan budaya
Bertemasyalah
anak desa yang setia

Bukan mudah bukan murah
Bukan mudah bukan murah

Terbayang keharuman
Mawar di tanam bonda
Mengajak aku pulang ke desa

Tangan-tangan Amal

Dalam berjuta cipta engkau pilihan
Dari pancaran hina lalu di mulia
Semuanya kerana dia, kepada dia hu…

Bukankah telah datang padamu
Pembawa pesan
Bukankah telah datang bertamu
Sabda dan kalam
Ke mana hilang belai kasihmu
Hati hamba mu ke mana menghilang

Tidakkah kau melihat tangisnya
Bagai tangis mu
Tidakkah kau merasa dukanya
Bagai duka mu
Hulurkan tangan-tangan amal mu
Kerna dirinya
Adalah dirimu

Hulurkanlah bantuan
Carilah kebaktian
Berilah amalmu sepenuh keikhlasan
Tidakkah kau mendengar berita
Tentang janjinya
Sebutir benih yang disemai dilipat ganda
Usah kau gusar menjadi papa
Kerana beramal oh… oh… oh…
Hati yang kikir bagaikan padi
Tidak berisi oh… oh…

Pandang, dengar, gerak, rasa, fikir, kata
Semua dia tua, muda, anak kecil, remaja
Raja hamba rasa mati
Harta, kereta, gedung, istana
Segala dicinta bakal ditinggalkan

Syair Laila Majnun

Terkulai di puncak rindu
Tenggelam dalam sendu
Kasih mu tak siapa
Bisa tanggalkan

Biar luka parah
Biar jiwa lara
Kasih mu yang sebati
Sukar ku pisah

Siapa bisa rasakan
Gelora cinta si Laila
Siapa gerangan
Kalaulah bukan Majnun

Mesti ada saksi
Mesti tegak bukti
Sebuah pengorbanan
Sebagai ganti

Lafazkan cinta mu satu
Azamkan cinta mu satu
Nazarkan cinta mu satu

Kibarkan cinta mu satu
Laungkan cinta mu satu
Juangkan cinta mu satu

Senandung Penghayal

Menderu angin menderu
Hadirkan rasa curiga
Tertanya aku tertanya

Berdering telefon berdering
Ada berita yang di iring
Kiranya sangkaan ku benar

Oh… mengapa gini jadinya
Oh… mengapa gini jadinya

Di sana kau kecundang lagi
Dikalahkan nafsu sendiri
Oh… pedih oh… pedih

Heroin, morphin, apa lagi
Yang ingin kau terokai
Kecewa aku kecewa

Menderu angin menderu
Hadirkan rasa curiga
Kiranya sangkaan ku benar

Senandung Hidup Berbudi

Ombak lautan berombak
Mengapa mengubah pasir di pantai
Bayu bertiuplah bayu
Mengapa menjadi ribut dan badai

Begitu kita merancangkan
Belum pasti hadirnya kebahagiaan
Fahamlah apa itu takdir
Akan berseri hidup yang ditadbir

Hidup menggadai harta
Agar diri berharga
Janganlah kau salah mengerti
Kelak kau kan menggadai diri

Mencari penghormatan
Janganlah sampai terkorban
Yang mulia pasti kita hormatkan
Yang rendah jangan dihinakan

Tenang di air yang tenang
Jangan di sangka boleh direnang
Kail panjanglah sejengkal
Janganlah lautan hendak diduga

Itulah pesan orang lama
Menjadi bekal pada yang berusaha
Ingatlah pepatah ini
Menjadi panduan hidup berbudi

Pak Kadok Si Pandir

Bersamalah kita teruskan perjalanan
Dengan rasa tabah dan penuh kesabaran
Ketekunan, kecekalan

Biar apa yang menentang perjalanan
Wajarlah kita pastikan pencapaian
Dan tujuan, kejayaan

Peduli segala cemuhan
Yang menghambat kejayaan
Harus kesampingkan

Tak guna kita sorakkan kejayaan
Kalau hanyalah sekadar di pinggiran
Percumalah, perjuangan

Kita kan tak ingin kecundang
Biar pun jiwa mu taruhan
Pastikan kesampaian

Mahukah kita kini ulangi lagi
Kisah pak kadok yang kehilangan
Tanah tergadai dek kebodohannya

Atau mampukah kita menjadi
Si pandir yang cuma berangan-angan
Dan di persia, di persia

La… la… la… pa… pa…
La… la… pa… pa… lah papa

Negeri Hakiki

Gemalai suasananya muhibah
Memukau hati kemarau suci
Bagai bermimpi di taman murni

Bergembiralah jiwa yang duka
Dihiasi sinar syahdu kasih
Bagai bermandi pelangi ranggi
Bagai bermandi pelangi ranggi

Perjalanan insan di bumi fana
Menyelusuri takdir dan kehendak
Yang Maha Esa atas segalanya

Maka itulah tempatnya tujuan
Bagiku negeri kenyataan
Yang kuidamkan dan kudambarkan
Moga tersahut panggilan hakiki

Yang kurindukan yang kudambarkan
Yang kurindukan yang kudambarkan

Moga tersahut ke negeri hakiki
Moga tersahut ke negeri hakiki

Ku Di Halaman Rindu

Di tengah kepekatan malam
Berdiri aku di halaman rindu
Di hembus kenangan lalu
Menjelmalah seraut wajah
Sekuntum bunga yang pernah ku puja
Tapi layu akhirnya

Ingin ku tembus tembok silam
Dan membaiki kesilapan kita
Yang tiada kita rasa
Dahulu maaf tak bererti
Darah muda menguasai diri
Gitu mudah membenci

( korus )
Ku di halaman rindu
Hanya berteman bunga yang layu
Ku di halaman rindu
Tiada harum tiada madu

Oh kesalku membeku di kalbu
Oh sayangku penawar rinduku
Oh kasihku hanyalah untukmu
Oh sayang hanyalah untukmu

Kau Yang Satu

Kaulah Yang Maha Esa
Kaulah Yang Maha Pengasih
Kaulah Yang Maha Penyayang
Tiada hidup tanpaMu

Kaulah Yang Maha Agung
Kaulah Yang Maha Mengetahui
Tuhan dunia akhirat
Tiada aku tanpaMu

Bilaku rasa pilu
Bilaku rasa resah
Bilaku kekosongan
Kau tempatku mengadu
OH Tuhan yang satu
Engkaulah Tuhan yang satu

Segala puji-pujianku
Tujukan padaMU..padaMU
Dan hidup dan matiku hanyalah
UntukMu..untukMu…untukMU

Kalimah Terakhir

Jauh sudah perjalanan
Pahit manis dirasakan
Kini kau sudah di penghujung jalan

Di waktu yang sangat sempit
Di saat hampir terhimpit
Gerak bibir mu tanpa suara
Tenangkanlah jiwa mu
Di kalimah akhir mu

Tua, muda, miskin, kaya
Pasti kembali kepada Nya
Rumah, harta, gedung, istana
Tiada lagi berguna
Hanya amal, budi, bakti, suci

Oh… oh… oh…

Jauh sudah perjalanan
Pahit manis dirasakan
Kini kau sudah di penghujung jalan

Yang jauh semakin jauh
Yang dekat semakin dekat
Berbaktilah sebelum terlambat
Bimbinglah kami ini
Ke jalan Mu Ilahi Ya! Rabbi

Oh… oh… oh…
( ulang )

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z #
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z #
Cari Lirik ?

Nama Artis

Judul Lagu

frase lirik

TV show, mocie, anime, korea, japanese, india dorama

Penulis lirik, komposer