Kisah Sedih Bocah Ita Ini Akan Menyayat Perasaanmu!

Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!’ katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa.
0
Kisah Sedih Bocah Ita Ini Akan Menyayat Perasaanmu!
0 (0%) 0 votes
ita

Sesak rasanya dada ini jika membaca berita tentang orang tua yang tega memukul anaknya. Di lingkungan kita lazim ditemui orangtua yang dengan mudahnya memberikan cap “nakal” kepada anaknya.

 

Dan karena cap itulah, orangtua seakan memiliki kehalalan untuk “mendidik” anak dengan cara-cara kekerasan termasuk memukul.

 

Jika ada anak kamu yang kreatif, tolong jangan dipukul ya… Baca kisah inspirasi yang menyentuh hati ini.

 

 

Papa, Kembalikan Tangan Ita

 

Inilah kisah nyata itu:

 

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

 

Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

 

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu berwarna putih, coretannya tampak jelas. Apalagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

 

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena jalan macet. Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ayam dan gambarnya sendiri dan sebagainya untuk mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

 

 

 

 

Kerjaan siapa ini?

 

 

 

mobil dicoret anakSource: Tipswanitaidaman

 

 

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, ‘Kerjaan siapa ini?’ Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

 

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !’ ‘Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?’ hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.

 

Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!’ katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

 

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

 

Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

 

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis.

 

Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

 

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. ‘Oleskan obat saja!’ jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.

 

Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. ‘Ita demam…’ jawab pembantunya ringkas.

 

‘Kasih minum obat penurun panas ,’ jawab si ibu.

 

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas.

 

“Sore nanti kita bawa ke klinik” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

 

‘Tidak ada pilihan..’ katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.

 

‘Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah’ kata dokter.

 

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

 

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

 

‘Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.’ katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

 

‘Ita juga sayang Kak Narti..’ katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.

 

 

 

 

Papa… kembalikan tangan Ita

 

 

 

Kejam-Ayah-Tega-Pukul-Kedua-Tangan-Sang-Anak-Hingga-Diamputasi-Hanya-Gara-Gara-Coretan-di-MobilSource: Sebatasberita

 

 

‘Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,’ katanya berulang-ulang.

 

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

 

 

Bapak dan Ibu yang baik… Tahanlah emosi dan amarah saat mendidik anak. Jangan sampai karena ketidakmampuan kita dalam mengontrol emosi akan berdampak buruk untuk masa depan anak. Jika ketika membuatnya saja para orang tua bersikap lembut dan penuh kasih sayang, lalu kenapa setelah sang buah hati lahir kedunia para orang tua justru bersikap kasar?

 

Mari bagikan kisah penuh pesan ini kepada para orangtua, agar tidak ada lagi anak yang bernasib seperti Ita lagi.

 

 

Source : Tarbiahmoeslim

Hello Comment 9Sort by


user Anonim
2016/04/10 23:32

orang tua berhati iblis ber otak dajjal..binatang anjing aja masih ada belas kasihan terhadap anak nya...ini manusia malah lebih rendah dari pada seekor anjing..

user Anonim
2016/01/22 21:31

Mikir donk,Apakah harta benda lebih berharga dari anak kita?

user Anonim
2016/01/21 23:02

Orang tua gak punya belas kasihaan udah terjadi baru dah loh nyesel

user Anonim
2016/01/21 20:50

orang tua nya yg durhaka,bukan si anak

user Anonim
2016/01/21 19:41

dasar ortu sadis itu tekh,msh syukur diberi ank oleh allah swt,srh di urus,dll,nie mah malah dianiaya,dasr gx punya otak,bnyk dluar snah yg lgi mnunggu kdtgn seorg ank,nie mh yg udh pnya ank malah di gtuin,ortu gx pnya hati nurani,mntgin harta dbndg dgn anknya yg hsil dri merka berdua,



Load more comment...
Load more all comment...

Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori