Inilah Kisah Hidup Tragis Aylan Kurdi Yang Singkat. Miris!

0
Inilah Kisah Hidup Tragis Aylan Kurdi Yang Singkat. Miris!
0 (0%) 0 votes
aylan kurdi

Seorang polisi menangis di bibir pantai Turki pada Kamis 3 September 2015 kemarin. Matanya menangis melihat sesosok tubuh yang tertelungkup di hadapannya. Tubuh ini terbaring tidak bernyawa menggunakan kaos merah, celana panjang biru dan sepatu kain berwarna biru.

 

Namanya adalah Aylan Kurdi, usianya baru menginjak 3 tahun. Usia yang masih lucu lucunya dengan segala tingkal laku polosnya. Polisi ini menggendong tubuh Aylan Kurdi dengan isak tangis yang menggetarkan hati. Tubuh Aylan Kurdi sudah dingin dan separuh kaku saat itu.

 

“Beginilah kejamnya perang. Tapi orang-orang masih saja suka berperang,”

 

 

Aylan bersama kakak dan ibunya, serta belasan anak anak serta orang dewasa lainnya sedang menaiki perahu yang akan membawanya ke Eropa, namun kehilangan kendali dan terbalik di lepas pantai Turki. Para pengungsi ini memilih pergi meninggalkan negaranya untuk menghindari perang. Dan pada malam itu adalah puncak dari cerita mengenaskan peperangan yang terjadi di Suriah belakangan ini.

 

Perang tidak menimbulkan kebahagiaan, perang hanya menimbulkan kesengsaraan. Banyak orang dewasa dan anak anak tewas sia sia karena perang. Perang sudah merenggut kebahagiaan mereka.

 

 

Perang Suriah sudah menciptakan gelombang pengungsi yang sangat besar. Catatan UNHCR menyatakan kalau sudah ada 4juta warga Suriah yang mengungsi ke berbagai negara. Turki (1,7juta), Lebanon (1,7Juta), Jordania (700ribu), Irak (300ribu) Mesir (150ribu), Eropa (Jerman 110ribu dan Yunani 90ribu). Sisanya tersebar ke Afrika, Amerika Utara dan Selatan, bahkan Brazil.

 

Hidup mereka juga jauh dari nyaman, hidup di tenda pengungsian di tanah yang asing. Tekanan psikologis juga mendera kehidupan mereka. Tidak semua negara mau menerima mereka. Tapi mau tidak mau mereka harus mau hidup dalam keadaan itu.

 

Belum lagi ancaman dari ISIS yang senantiasa memanfaatkan situasi untuk merekrut anggota baru.

 

“Semakin lama, situasi semakin buruk. Semua yang kami impikan buyar. Kami tidak berani lagi bermimpi. Jika tidur, kami ingin cepat-cepat bangun karena di dalam mimpi pun kami dikejar-kejar oleh ketakutan yang lebih besar,”

 

 

Inilah yang membuat Abdullah Kurdi, sang ayah dari Aylan Kurdi pergi meninggalkan kampung halaman mereka di Kobani, sebuah kota yang jadi tempat peperangan di Suriah. Abdullah Kurdi, bersana istri dan kedua anaknya Aylan Kurdi dan Ghalin Kurdi memutuskan untuk menyeberang ke Kanada melalui Eropa. Namun upaya ini gagal karena ombak besar membuat perahu yang mereka naiki hancur berkeping keping.

 

aylan kurdi
https://lh3.googleusercontent.com/

Abdullah terseret ke tepi pantai, sementara istri dan kedua anaknya Aylan Kurdi dan Ghalin Kurdi meninggal. Sebuah kenyataan yang ia sesali. Dan saat diwawancari CNN, Abdullah menyatakan kesedihannya dan penyesalannya yang teramat sangat.

 

“Kenapa saya tidak ikut mati? Sekarang saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Saya tidak punya keinginan apa-apa lagi. Saya tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Saya hanya akan membacakan Alquran untuk mereka. Saya mungkin akan kembali (ke Suriah). Mungkin di sana saya akan dijemput mati. Saya memang berharap kami secepatnya bertemu lagi,”

 

“Dia memang patut dicintai. Dia memang akan ke surga. Tidak, tidak. Dia sudah di surga. Dapatkah kau memberi tahu Ayah seperti apa surga itu, Nak? Ah, tidak, tidak. Tidak usah kau beritahu. Nanti akan ayah lihat sendiri. Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi.”

 

Senyum ceriamu akan selalu mewarnai dunia ini nak.. Semoga kamu tenang disana, sekarang sudah tidak ada yang bisa melukaimu lagi. Bermainlah dengan gembira di surga..

 

Amin..

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori