Ini Alasan Kenapa Sopir Blue Bird Pada Demo

Sarman menjelaskan, selama ini, pengemudi angkutan umum, khususnya sopir taksi, hanya bisa menikmati uang yang dia dapat dari sisa usaha dia mengangkut penumpang
0
Ini Alasan Kenapa Sopir Blue Bird Pada Demo
0 (0%) 0 votes
000001bluebirdgroup

Ricuh demo sopir taksi yang berlangsung 22 Maret lalu yang berakhir vandal menyisakan pertanyaan besar. Siapa sebenarnya yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas demo besar-besaran berujung kericuhan kemarin? Benarkan transportasi berbasis aplikasi menjadi biang kerok menurunnya kesejahteraan para sopir taksi?

 

Dilansir Kompas, Dua perusahaan taksi besar, Blue Bird dan Express, disebut Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang meraup untung besar dari kegiatan mereka selama ini. Namun, hal itu dianggap tidak sebanding dengan kesejahteraan para pengemudi atau sopirnya, hingga mereka ikut unjuk rasa menentang perusahaan penyedia jasa transportasi online yang dianggap merugikan mereka.

 

 

 

 

Blue Bird

 

 

 

Taksi-Blue-BirdSource: Urbandung

 

 

“Keuntungan perusahaan yang begitu besar tidak diiringi dengan kesejahteraan sopir. Ini yang kami lihat. Ke depan, harus diatur juga oleh pemerintah,” kata Sarman dalam diskusi program Polemik Sindo Trijaya FM di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (26/3/2016).

 

Sarman menjelaskan, selama ini, pengemudi angkutan umum, khususnya sopir taksi, hanya bisa menikmati uang yang dia dapat dari sisa usaha dia mengangkut penumpang sehari-hari. Sementara itu, perusahaan selalu membebankan setoran yang tinggi kepada para sopir.

 

Maka, yang terjadi, mereka kesulitan untuk memenuhi besaran setoran yang ditentukan pihak perusahaan dan sama sekali tidak membawa uang pulang, bahkan tidak jarang harus menutup kekurangan setorannya sendiri.

 

“Ini kan tidak seimbang. Perusahaan untung besar, tapi tidak mengalir ke sopirnya. Menurut hemat saya, (keduanya) harus sejalan. Ini jomplang begitu, loh,” tutur Sarman.

 

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) Juni Prayitno mengungkapkan, para sopir tidak berdaya terhadap kebijakan perusahaan yang menaikkan beban setoran.

 

Para sopir juga menilai, tidak mungkin untuk menurunkan tarif agar dapat bersaing dengan perusahaan penyedia jasa transportasi online, karena sejumlah langkah yang harus ditempuh melibatkan pemerintah dan perusahaan.

 

“Kami pernah menyampaikan keluhan kami di lapangan kepada perusahaan. Sudah pernah dibantu Organda, sudah diusulkan. Respons perusahaan sebenarnya ada, tapi tidak mungkin menurunkan tarif. Tarif ini sudah sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub). Kami pun tahu itu. Kalau kami demo ke perusahaan, salah alamat, karena sudah sesuai dengan peraturan,” ujar Juni.

 

 

 

 

Perbandingan taksi reguler dan aplikasi

 

 

 

demografiSource: Kompas

 

 

Maka dari itu, para sopir menyalahkan perusahaan penyedia jasa transportasi online atau yang lebih dikenal sebagai taksi online, karena dianggap merebut pasar atau konsumen mereka. Dari penuturan sejumlah sopir, semenjak ada taksi online, pendapatan mereka berkurang hingga 50 persen.

 

Banyak pihak menilai aksi demo besar-besaran yang dilakukan sopir taksi mendapat dukugan penuh dari perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan kabar yang mengatakan jika setiap sopir Blue Bird yang ikut berunjuk rasa dibebaskan dari uang setoran dan diberi uang ratusan ribu rupiah serta nasi kotak. Bahkan kabarnya manajemen memfasilitasi puluhan pengemudi dari setiap pool untuk ikut demonstrasi hari ini, Selasa, 22 Maret 2016.

 

Padahal kalau melihat kenyataan dan mau berkaca, dulu hingga kini keberadaan taksi amat mengancam penghasilan para tukang becak. Sekarang giliran penghasilannya terancam teriak-teriak. Segitunya Pak…

 

Bagaimana menurutmu? Mari bagikan dan jangan lupa berikan komentarmu.

 

 

Source : Kompas

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori