Bupati Purwakarta Tolak Usulan Sekolah Seharian

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menyarankan penerapan Full Day School. Tapi, Bupati Purwakarta Dedi Mulyani menolak hal ini lho!
0
Bupati Purwakarta Tolak Usulan Sekolah Seharian
0 (0%) 0 votes
dedi mulyadi

Sistem pendidikan di Indonesia memang harus banyak pembenahan di sana-sini, termasuk perbaikan kurikulum. Untuk menindaklanjuti hal itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy belum lama ini melirik Full Day School untuk meningkatkan karakter didik dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

 

Wacana tersebut, menuai pro kontra dari berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pejabat pemerintah lainnya. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, menjadi salah satu pejabat yang menolak wacana penerapan Full Day School ini. Kenapa? Berikut ulasannya.

 

 

Hanya Cocok untuk Anak di Perkotaan

 

Dedi menolah penerapan Full Day School bukan tanpa alasan. Ia menolak penerapan Full Day School karena dinilai hanya cocok untuk anak perkotaan yang orangtuanya disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Selain itu, diperlukan fasilitas yang lengkap dan berkualitas agar proses pembelajaran dan pembentukan karakter dapat berjalan maksimal.

 

“Jangan hanya lihat Jakarta. Lihat Papua, Kalimantan, Sumatera, bahkan Jawa Barat. Tidak semua sekolah cocok dengan penerapan full day school,” ujar Dedi seperti dilansir Kompas.

 

Fasilitas yang memadai juga sangat diperlukan agar selama seharian anak tidak hanya memegang buku, tapi juga melakukan praktek langsung. Mereka bisa menyalurkan bakat dan ekspresinya melalui kegiatan yang menarik minat dan sesuai dengan keinginan mereka.

 

Fasilitasnya harus memadai. “Laboratorium, ruang seni, ruang olahraga, harus representatif. Begitupun dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, PMR, Paskibra, harus bagus,” ujarnya menambahkan.

 

Dapat Menyebabkan Anak Depresi

 

Dengan fasilitas yang memadai, lengkap dan berkualitas, Full Day School tentu akan membuat anak semakin aktif dan kreatif, karena anak tak perlu seharian memegang dan belajar dari buku. Namun, berbeda halnya jika sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk kegiatan ekstrakulikuler setelah jam belajar selesai. Full Day School tanpa fasilitas lengkap, hanya akan menyebabkan anak didik mengalami depresi.

 

“Jika sekolah pengap, sempit, disuguhkan banyak mata pelajaran, anak akan depresi,” tegas Dedi.

 

anak di sawah

Source: via: http://i1.wp.com

 

Kabupaten Purwakarta akan Mengguanakan Konsep Lama

 

Dengan menimbang baik buruknya penerapan Full Day School di pedesaan, Dedi memutuskan bahwa Kabupaten Purwakarta akan tetap menggunakan konsep yang sudah ada. Di pedesaan yang rata-rata warganya berprofesi sebagai petani, jam masuk sekolah tentu lebih singkat, yakni mulai pukul 6 pagi hingga 11 siang.

 

Sepulang sekolah, mereka akan membantu orangtuanya di sawah, ladang, ataupun menjadi nelayan. Bagi Dedi, kegiatan ini seharusnya juga menjadi poin penting pendidikan, bukan hanya di sekolah dan belajar melalui buku.

 

“Kalau full day school digeneralisasi saya tidak setuju dan menolaknya. Kalau itu yang diputuskan, saya akan surati kementerian menyampaikan ketidaksetujuan ini,” tutupnya.

 

Bagaimana menurutmu? Setujukah kamu dengan Bupati Dedi? Atau akan mendukung wacana Mendikbud Muhadjir?

 

Sumber: Kompas

Hello Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori